Entri yang Diunggulkan

Target Pajak 2019 Jangan Sampai Menyengsarakan Rakyat

RMOL.  Menteri Keuangan Sri Mulyani memasang target penerimaan pajak pada Rancangan APBN 2019 sebesar Rp 1.786,4 triliun. Menurut anggot...

Minggu, 15 November 2015

Review film misterius

Bermodalkan dua film horor hantu-hantuannya yang seram, Angker (2014) dan Kemasukan Setan(2013), saya tentu saja amat berharap Muhammad Yusuf bakal melakukan hal yang sama di Misterius, tak hanya kembali menghadirkan konsep horor yang tradisional, tapi juga memberikan pengalaman menakutkan berujung mimpi buruk. Ketika kebanyakan film horor lokal yang tayang di bioskop tampak senang mencekoki penontonnya dengan penampakan instan, dan memanfaatkan efek suara super bising untuk membuat telinga mereka berdarah. Yusuf memilih pakai cara-cara yang sederhana untuk menciptakan rasa takut dan suasana yang mencekam. Film-film horornya memaksimalkan lagi peran atmosfer yang selama ini seperti terlupakan dan hilang dari sinema horor Indonesia. That’s why, horor yang dibuat oleh Yusuf lebih terasa efektif, bukan sekedar memancing penonton untuk menjerit tapi juga menggali ketakutan kita. Memang, tak semua orang bisa ditakuti oleh Misterius, tapi setidaknya formula yang dipakai Yusuf masih ampuh dalam upayanya menghantarkan tontonan horor yang “mengasyikkan”.
Berlatar cerita rumah yang kedatangan arwah penasaran, Misterius nantinya tak akan terlihat muluk-muluk ketika menjabarkan halaman demi halaman skripnya. Plotnya terkesan minim eksplorasi dan tidak banyak informasi soal karakternya, tapi saya tak melihatnya sebagai sesuatu yang mengganggu. Toh, saya datang ke bioskop dengan tujuan yang tidak muluk-muluk pula, hanya ingin ditakut-takuti, saya tak berekspektasi Misterius akan dijejali jalinan penceritaan yang rumit dan diselipi konflik yang (sok) berbobot. Apa yang sudah dilakukan oleh Muhammad Yusuf pada muatan ceritanya yang lagi-lagi menyinggung soal hamil di luar nikah itu, saya pikir sudah lebih dari cukup sebagai penopang sajian horor di Misterius. Yusuf tahu bagaimana membangun plotnya untuk pada akhirnya membuat saya merasa ngeri duluan, membayangkan Wulan yang ditugasi untuk pergi ke dunia gaib dan Ibu Lestari yang harus mengambil susuk di mayat Sumiyati. Belum apa-apa Misterius sudah berhasil memaksa saya untuk menciptakan wujud horor dan sesuatu yang menakutkan di kepala sendiri, disinilah letak kebangsatannya.
Berbeda dengan Angker yang pelit penampakan, frekuensi kemunculan hantu di Misterius nantinya akan dibuat lebih sering, Yusuf bahkan berani menghadirkan sosok arwah gentayangan lebih cepat dari yang saya duga. Untungnya, kehadiran hantu Sumiyati yang terkesan diburu-buru tersebut tak merusak suasana cekam yang sedang coba dibangun oleh Muhammad Yusuf. Intensitas penampakannya pun, walau terasa makin meningkat tapi tetap dijaga untuk minimalis, treatment yang sama di Angkerkembali dipakai untuk Misterius, termasuk hantu-hantunya yang hanya diam berdiri di pojokan dan melakukan gerakan seperlunya. Cara ini sekali lagi terbukti lebih efektif ketimbang jump scare numpang lewat sekelebat dengan tambahan efek suara yang hingar-bingar. Trik sederhana Yusuf tidak saja membuat setiap penampakan dedemit di Misterius terasa meyakinkan, tapi juga ikut membantu menaikkan level mencekam film ini dari menit ke menitnya. Yah, sekalipun penampakannya lebih banyak, Yusuf tak begitu saja melupakan unsur penting yang membuat film horornya tampil menakutkan, yakni atmosfernya.
Durasi boleh sekejap mata tak sampai 90 menit, tapi Misterius berhasil membuat saya stress setengah mati, penyebabnya tentu saja atmosfer cekam yang teramat menyesakkan dan berbagai penampakan ngehenya. Jika biasanya saya gampang mengucapkan bangsat dan kata-kata sumpah serapah lainnya ketika dikagetkan atau ditakuti, kali ini saya memilih untuk banyak-banyak istighfar dan baca-baca doa—saya serius melakukan itu di bioskop saking takutnya. Tapi Misterius tidak saja menarik karena Yusuf mampu mencengkram sekaligus mengendalikan rasa takut penontonnya—bahkan saya bisa dibuat takut oleh kursi tua—penambahan pernak-pernik ritualnya yang cukup detil pun semakin menambahkan daya pikat pada filmnya, seperti yang Yusuf tunjukkan juga di Angker. Muhammad Yusuf di Misteriustidak hanya memberikan saya sebuah pengalaman horor menakutkan, tapi juga memperlihatkan kalau penampakan di awal film dan kemunculan hantu yang jumlahnya setumpuk, tak selamanya membuat film horor jadi buruk, justru jika diperlakukan dengan trik yang benar malah akan menambah keseramannya.


Review film kakak

Walaupun dikategorikan sebagai seorang yang penakut, saya juga tipikal orang yang sebenarnya sulit untuk ditakut-takuti oleh film horor. Menurut saya, pantas atau tidaknya sebuah film horor itu disebut seram bukan terletak pada tampang hantunya yang menakutkan, atau seberapa banyak jump scareyang sukses bikin kaget penontonnya. Selain bagaimana si pembuat film meramu atmosfernya, ada satu hal yang selalu saya lakukan untuk pada akhirnya memutuskan “anjing, film ini serem!!”, yaitu membayangkan saya berada di film tersebut. Ketika menonton Kakak, saya akan memposisikan diri saya pada situasi horor di film tersebut, jadi saat ada adegan yang memperlihatkan Laudya Chintya Bella sedang berhadapan dengan sosok hantu anak perempuan (lebih mirip Sadako cilik), saya kemudian mencoba bayangkan tukar posisi dengan Bella, takut apa nga? Nah, Kakak punya potensi untuk menjadi horor yang seram, tapi tampaknya si pembuat film sendiri tidak percaya diri apakah film horornya bisa menakuti penonton. Alhasil, telinga saya lagi-lagi harus jadi korban efek suara yang terlalu bising, alih-alih membuat suatu adegan jadi kelihatan menakutkan, Kakak justru malah menjengkelkan.
Ivander Tedjasukmana sebetulnya bukan sosok yang baru di sinema horor lokal, sebelumnya dia mendampingi Monty Tiwa membesut Keramat, lalu pernah jadi asisten sutradara untuk film Anak Setandan Pocong 3. Laudya Cynthia Bella juga bukan kali pertama berurusan dengan dedemit, dia sudah lebih berpengalaman berkat perannya di Lentera Merah arahan Hanung Bramantyo, dan Kuntilanak 3yang disutradarai oleh Rizal Mantovani. Sedangkan Surya Saputra, walaupun dia lebih banyak berlakon di film-film ber-genre drama, namanya setidaknya pernah terdaftar di film thriller-nya Joko Anwar Modus Anomali. Terakhir ada Yafi Tesa Zahara si Sadako cilik, tampang imutnya sering muncul di film-film horor macam Wewe, Hantu Pohon Boneka dan 308. Didukung oleh sutradara dan barisan cast-nya yang punya pengalaman berkecimpung di dunia horor dan thriller, apa yang nantinya ditawarkan olehKakak memang harus diakui menjanjikan, tidak hanya dari unsur menakut-nakutinya tetapi juga ketika melihat cerita yang dibawakan, plus bagaimana para karakternya dimainkan oleh para bintangnya.
Tanpa menyodorkan hantu, pembuka Kakak sebenarnya boleh dibilang “seram”, ada adegan seorang anak perempuan yang asmanya kambuh tapi nyawanya tak tertolong, sedangkan orang tuanya malah asyik bertengkar saling menyalahkan. Lalu kita juga dipertontonkan Kirana yang diperankan oleh Bella sedang geletak di tepi jalan, penuh darah, keguguran dan kesakitan. Setelah itu Kakak tidak akan tergesa-gesa menyeret penontonnya masuk ke bagian horor-horornya, separuh pertama film akan diawali dengan drama yang menyorot lika-liku rumah tangga Adi (Surya Saputra) dan Kirana. Kakakpunya banyak waktu untuk mengenalkan kita dengan pasangan suami istri yang baru saja pindah ke rumah baru ini, Ivan ternyata peduli pada karakternya, membiarkan mereka menyatukan chemistry-nya dengan baik, agar penonton lebih bisa diyakinkan dengan status hubungan Bella dan Surya, jika mereka benar-benar seperti layaknya pasangan suami istri yang sedang menanti anak. Pada akhirnyatreatment yang diberikan Ivan kepada karakternya membuahkan hasil menarik: saya lebih peduli pada Adi dan Kirana, tapi sayangnya kepedulian tersebut tidak menular ketika horornya meneror.
Kakak tahu betul bagaimana menciptakan chemistry yang manis antara Bella dan Surya, sekaligus membangun konflik yang menarik ke dalam penceritaan. Bagian yang mengupas drama rumah tangga memang terasa sangat mendominasi, tetapi saya tidak akan terlalu mempermasalahkan itu, selama porsi horornya nantinya punya perlakuan yang adil. Kenyataannya justru sebaliknya, di saat Kakakmulai menebar teror demi terornya, melepas sosok hantu-anak-perempuan-berambut-panjang-bergaun-putih-kotor, daya tarik yang sebelumnya menempel erat justru perlahan-lahan berontak ingin melepaskan diri. Terlepas dari berbagai trik yang kadaluarsa, Kakak tidak hanya memiliki level kepercayaan diri yang rendah saat mencoba menakut-nakuti penontonnya, tapi juga jatuh ke lembah nista dan hina ketika merancang penampakan tanpa mempedulikan keselamatan penontonnya. Sederetjump scare-nya jadi tidak efektif, bukan saja karena kurangnya atmosfer mencekam yang melekat pada setiap adegan yang ditujukan untuk mengejutkan penonton, tapi juga disebabkan pemakaian efek suara yang tak manusiawi. Jujur, jika bukan karena pakaian “minimalis” yang dikenakan oleh Bella, saya mungkin sudah meninggalkan Kakak dan memilih untuk nongkrong di soto bogor Pak Ace.

Jumat, 06 November 2015

3 ( Review Film)


Film 3 langsung memberikan gambaran perubahan yang terjadi di Indonesia selama 20 tahun ke depan. Sebagai respons terhadap berbagai perseteruan antarkubu agama dan pengeboman tempat-tempat umum, perburuan terhadap gerakan radikal agama semakin gencar oleh aparat negara, bahkan banyak dari mereka dieksekusi tanpa proses pengadilan. Di saat hampir bersamaan, timbul gerakan baru untuk menegakkan hak asasi manusia dalam setiap aspek.
Revolusi pun terjadi di Indonesia pada tahun 2036, dengan prinsip menunjung tinggi HAM dan kebebasan. Perdamaian tampaknya mulai tercipta. Senjata tajam dilarang, sehingga aparat hanya mengandalkan peluru karet dan keahlian bela diri, silat menjadi hal yang lumrah di masyarakat. Media menyorot gerak-gerik aparat agar tidak kecolongan melakukan pelanggaran HAM. Di sisi lain, ruang untuk kegiatan beragama semakin sempit, menjalankan ibadah telah dianggap tabu, bahkan tempat-tempat komunitas agama dianggap sarang terorisme.
Di sinilah tokoh Alif (Cornelio Sunny), Herlam (Abimana Aryasatya), dan Mimbo (Agus Kuncoro) ditempatkan. Mereka adalah tiga sahabat dari perguruan silat yang sama sewaktu remaja, namun revolusi mengubah segalanya. Perguruan silat mereka ditutup, dan ketiganya memilih jalan hidup masing-masing. Alif menjadi aparat detasemen antiteror yang bertekad memberantas kriminalitas dan terorisme apa pun bentuknya. Herlam menjadi seorang jurnalis di sebuah media liberal dengan tetap memegang idealismenya. Sementara Mimbo menjadi seorang ustaz di sebuah pondok pesantren yang terus dalam pengawasan negara.
Tiba-tiba, sebuah bom meledak di sebuah kafe dan menewaskan puluhan orang. Kasus ini mempertemukan Alif, Herlam, dan Mimbo dalam sebuah misteri yang mengancam mereka. Kecurigaan bahwa pengeboman ini dilakukan kelompok radikal agama membuat Alif harus berhadapan dengan Mimbo. Herlam pun terusik untuk mencari kebenaran di balik kasus ini, sekaligus berusaha menjaga agar kedua sahabatnya ini tak saling bertarung. Sedikit demi sedikit misteri tersingkap, mereka bertiga semakin menyadari bahwa kasus ini melibatkan sesuatu yang lebih besar.
Sejauh ini, mungkin baru film 3 yang berani menyajikan cerita dengan latar Indonesia jauh di masa depan, lengkap dengan perubahan keadaannya. Tidak berlebihan jika mengatakan bahwa kehadiran film 3 merupakan sebuah penyegaran. Tetapi, yang lebih utama dari sekadar mengaplikasikan latar waktunya, adalah merancang setiap detail dari dunia dan masa yang belum terjadi tersebut agar believable. Film 3 berhasil mengatasi itu.
Film 3 menampilkan Indonesia yang telah menjunjung nilai-nilai liberal setelah revolusi. Ini memang bukan sepenuhnya sebuah fantasi, karena sudah terjadi di dunia sekarang ini, hanya saja mungkin belum di Indonesia. Tetapi, film 3 berhasil memindahkan keadaan itu sehingga masuk akal dalam konteks bangsa Indonesia. Caranya? Lihat ke sejarah.
Di Indonesia, sudah pernah ada momen-momen yang mengubah tatanan kehidupan bangsa ini secara drastis—misalnya peristiwa 1965 dan 1998, sehingga bukan tidak mungkin hal semacam itu bisa terjadi lagi. Jika sekarang orang Indonesia lebih banyak yang mengaku beragama daripada yang tidak, siapa yang menjamin keadaan tidak bisa berbalik di masa depan?
TIDAK HANYA SATU DIMENSI
Tidaklah salah apabila ada yang akan menganggap film ini sebagai ramalan yang amit-amit terjadi, dan membawa pesan bahwa sepatutnya ajaran agama tetap dijalani sekalipun mendapat tekanan. Hal ini diteguhkan dengan ketiga karakter utama yang masih memegang ajaran Islam—walau dalam kadar berbeda-beda. Bahkan, nama panggilan mereka adalah Alif, Lam, dan Mim, berdasarkan tiga huruf pertama dalam beberapa surat di Al-Qur'an yang tidak diketahui maknanya. Namun, bukan cuma itu yang bisa digali di film ini.
Misalnya, jika diperhatikan, film ini sebenarnya tidak mengantagonisasi nilai-nilai liberal, yang biasanya dianggap "musuh" dari nilai-nilai agama konvensional. Liberalisme di sini bukan dianggap sebagai paham yang menerapkan kebebasan, tetapi lebih sebagai sebuah kelompok yang menjadi mayoritas. Ini bisa diartikan sebagai gambaran keadaan yang terus berulang terjadi di kehidupan masyarakat mana pun di dunia, bahwa apa pun pahamnya, ada kecenderungan kelompok mayoritas akan menekan minoritas dan menganggap sikap itu hal yang wajar, baik dalam hal pemikiran maupun keberadaan secara fisik.
Itu pun bukan hal yang tersirat, sebab beberapa kali pandangan ini diungkapkan secara gamblang dalam dialog. Film 3 memang terbilang penuh dengan komentar-komentar verbal tentang agama, politik, sosial, hukum, media, teknologi, teori konspirasi, bahkan cinta, dan untungnya tidak datang dari satu sudut pemikiran saja. Pengujaran-pengujaran gamblang ini memang selalu muncul di film-film garapan Anggy Umbara (Mama Cake, Coboy Junior The Movie, Comic 8). Namun, di film 3 semua itu ditampilkan paling sesuai dengan fungsinya, baik untuk mendeskripsikan karakter, ataupun menggerakkan plotnya.
Jika plot film ini menghadirkan konsep satu masalah dari tiga sudut pandang tokoh-tokohnya, maka prinsip itu juga muncul dalam penuturannya. Itu sebabnya di awal film ada anjuran untuk menonton film ini sampai akhir, supaya penonton tidak salah sangka dengan apa yang ingin disampaikan. Contohnya, film ini menampilkan tokoh-tokoh yang secara gamblang mengucapkan kalimat yang menyudutkan agama, tetapi pada akhirnya film ini bisa juga dipandang pro-agama. Film ini bisa dianggap mengisahkan dystopian future,bisa juga tidak—tergantung ada di pihak yang mana. Film ini bisa dianggap bercerita tentang kebaikan melawan kejahatan, tetapi yang kemudian bergulir adalah pertarungan antara pihak-pihak yang sama-sama merasa berhak menciptakan perdamaian.

Rabu, 04 November 2015

AIR MATA SURGA



Film ini bercerita tentang perjuangan seorang perempuan dalam mempertahankan cintanya sampai akhir hayat. Fikri (Richard Kevin), Dokter Ahli Desain sekaligus lulusan Maha Santri di Jakarta, menikahi Fisha (Dewi Sandra), mahasiswi S-2 dari Yogyakarta yang belum lama dikenalnya. Bagi Fikri, Fisha adalah 'ranting terindah' yang pernah dia temui dalam belantara kehidupan ini, sehingga dia tidak perlu menunggu lama-lama. Padahal Hamzah (Morgan Oey), teman Fisha sejak kecil, sudah lama menaruh hati pada Fisha. Bahkan Bunda (ibu Fisha, diperankan Ayu Dyah Pasha) dan Weni (sahabat Fisha, diperankan Adhitya Putri) juga mendukung kedekatan mereka. Tapi Fisha menganggap Hamzah seperti kakaknya sendiri. Mustahil baginya untuk bisa memiliki perasaan lebih dari itu.
Namun hubungan Fisha dengan Halimah (ibu Fikri, diperankan Roweina Umboh) kurang harmonis. Sudah lama Halimah menjodohkan Fikri dengan anak dari sahabat almarhum suaminya. Takdir berkata lain, malang tak dapat ditolak, Fisha mengalami keguguran sampai dua kali. Fisha sangat sedih dan terpukul. Fikri tidak pernah menyalahkan Fisha sedikit pun atas segala musibah yang terjadi.
Saat Fikri ada bisnis di luar kota, Fisha mengalami kesakitan yang luar biasa di perutnya. Dokter memberikan diagnosa bahwa Fisha terkena kanker rahim stadium akhir. Itulah mengapa dia sangat sulit hamil selama ini. Mengetahui bahwa waktunya tidak banyak lagi dan tidak akan bisa punya anak, Fisha mengambil langkah pengorbanan yang luar biasa sebagai seorang istri. Pengorbanan yang membuktikan bahwa cinta sejati itu hadir dalam hati seorang wanita.
- See more at: http://www.wowkeren.com/film/air_mata_surga/#sthash.oitlekXP.dpuf

FILOSOFI KOPI








Dewi “Dee” Lestari adalah salah satu penulis Indonesia di era sekarang yang tulisannya paling banyak diangkat ke layar lebar. Menyusul Rectoverso, Perahu Kertas, Madre, dan Supernova,sebuah cerita pendeknya yang berjudul Filosofi Kopi diadaptasi menjadi film dengan judul yang sama. Uniknya, Angga Dwimas Sasongko, sang sutradara, mengikutsertakan para penggemar Dee dalam proses produksi film ini, melalui aplikasi telepon pintar dan kampanye crowdsourcing.
Film Filosofi Kopi adalah tentang dua anak muda pemilik kedai kopi yang juga bernama Filosofi Kopi. Ben (Chicco Jerikho), sang peracik kopi, adalah tipikal orang dengan obsesi. Bagi Ben, kopi adalah sesuatu yang ia tidak akan kompromikan dengan apapun. Jody (Rio Dewanto), yang mengurusi keuangan, berkebalikan drastis dari Ben. Ia logis, penuh kalkulasi untung-rugi, dan lebih mementingkan penghasilan daripada pengalaman meminum kopi yang selalu ditekankan oleh Ben. Perbedaan kepribadian ini yang berulang kali menjadi konflik, seperti perdebatan mengenai perlu tidaknya memasang jaringan wi-fi untuk menarik pelanggan, atau memakai biji kopi berkualitas rendah yang harganya lebih murah. Ben seringkali menganggap Jody gila karena mengorbankan esensi menikmati kopi demi laba, sementara Jody juga kerap menganggap Ben gila karena tidak mau memikirkan keadaan ekonomi mereka yang terjerat hutang besar.
Suatu hari, datanglah seorang pria paruh baya yang berkunjung ke Filosofi Kopi. Ia tertarik kepada Filosofi Kopi setelah membaca sebuah ulasan di koran. Sang pria tadi mempunyai tender proyek dengan seorang pengusaha yang begitu menggilai kopi. Ia menantang Ben dan Jody untuk membuat sebuah racikan house blend dengan rasa seenak mungkin demi memuluskan tender tersebut. Jika Ben dan Jody berhasil, ia menjanjikan mereka uang 100 juta rupiah. Ben menyanggupi, bahkan berani menantang balik sang pria. Jika Ben berhasil membuat kopi paling enak, sang pria harus membayar satu milyar rupiah kepada mereka. Namun jika Ben gagal, ia menyanggupi untuk membayar pria tersebut uang dengan nilai nominal yang sama. Ide ini ditentang habis-habisan oleh Jody, yang mengingatkan Ben tentang hutang-hutang mereka. Akan tetapi Ben yakin bahwa uang semilyar tadi lah yang bisa melunasi hutang dan mengembangkan Filosofi Kopi. Hal ini membuat Jody mengalah dan mengikuti kemauan Ben. Demi memenangkan tantangan tersebut mereka berburu biji kopi yang mahal di pelelangan. Sepanjang waktu, Ben bereksperimen dengan kopi-kopinya menggunakan berbagai macam teknik yang canggih, hingga akhirnya terciptalah racikan mahakarya yang ia beri nama Ben’s Perfecto.
Ben’s Perfecto menjadi laris manis dan semuanya nampak sempurna, sampai datanglah El (Julie Estelle), seorang blogger kuliner sekaligus Q-grader (penilai kualitas kopi) bersertifikat internasional. El tertarik dengan klaim kesempurnaan yang disematkan Ben pada kreasinya. Sesesap kemudian, Ben dan Jody dibuat terhenyak oleh komentar El. Menurut El, Ben’s Perfecto bukanlah kopi terenak yang pernah ia rasakan. Kopi terenak itu justru ada di kawasan Kawasan Ijen, yakni milik Pak Seno (Slamet Rahardjo Djarot) dan istrinya (Jajang C Noer). Kopi itu diberi nama Kopi Tiwus. Sementara Ben tidak terima hasil karyanya dikalahkan kopi dari kampung, Jody percaya bahwa Kopi Tiwus lah yang bisa menyelamatkan mereka. Bersama El, mereka pergi menuju ke Kawah Ijen. Di sana, mereka tak hanya menemukan kopi terenak, tetapi juga menemukan diri mereka sendiri.
Pengembangan Cerita
Yang patut diapresiasi dari film ini adalah usaha si penulis naskah (Jenny Jusuf) untuk mengembangkan kisah dari cerita aslinya yang terbatas. Di dalam cerpennya sendiri, tidak ada jendela untuk melihat ke dalam motivasi karakter Ben dan Jody. Perbedaan dominasi antara logika (dalam Jody) maupun emosi (dalam Ben) adalah perbedaan yang arketipikal, alias mengulang tipe karakter serupa yang sudah-sudah. Di dalam adaptasi filmnya, ada usaha dari Jenny Jusuf untuk memberikan latar belakang dari karakter-karakter ini. Jody menjadi begitu perhitungan karena dia terlilit hutang tinggalan ayahnya. Ben terobsesi dengan kopi karena pengaruh didikan ayahnya mengenai kopi semasa ia kecil. Dua hal ini tidak ada dalam cerpennya. Begitu juga dengan yang menjadi dasar adanya tantangan kepada Ben dan Jody. Dalam cerpen, tantangan tersebut ada karena narsisisme seorang pengusaha yang ingin menikmati secangkir kopi yang sempurna–sebagaimana pengusaha tersebut memandang dirinya sendiri. Dengan mengubahnya menjadi motivasi ekonomis (untuk memuluskan tender), setidaknya ia satu tingkat lebih realistis, karena toh memakai jamuan dan makan/minum enak juga sering dipakai dalam lobi dan dunia bisnis.
Sisi yang lain juga ditambahkan ke dalam film. Terdapat hubungan tidak baik antara ayah dan anak yang terungkap lewat dialog dan kilas balik karakter-karakternya. Meskipun hal ini sesungguhnya arketipikal juga, Filosofi Kopi menceritakan subplot ini dengan efektif: tidak terlalu pendek hingga gagal berdiri, namun juga tidak terlalu panjang hingga menjadi distraksi. Lagi-lagi, ada jendela ke dalam motivasi di balik karakter-karakternya. Pada akhirnya, film ini bukan hanya tentang bagaimana seseorang menerima ketidaksempurnaannya sendiri, melainkan juga tentang menerima ketidaksempurnaan orang lain.
Meskipun demikian, ada beberapa hal masih menimbulkan pertanyaan di dalam film ini. Yang pertama adalah bagaimana kedai kopi selaris dan setenar Filosofi Kopi dapat mengalami kesulitan keuangan, apalagi jika tempatnya tidak perlu menyewa dan pengelolaannya dilakukan dengan cermat. Yang lain adalah bagaimana El yang seorang Q-grader tidak menunjukkan kualitasnya sebagai seorang penilai kopi yang bersertifikat internasional. Alih-alih mengelaborasi penilaiannya terhadap Ben’s Perfecto dan Kopi Tiwus, pendapatnya terbatas pada kata “lumayan” dan “enak”. Mungkin sang penulis skenario sengaja mengorbankan karakter El sehingga filmnya tidak menjadi terlalu teknis, sehingga tidak mengalienasi penonton-penonton yang awam tentang dunia perkopian.
Ada pula secuplik cerita mengenai konflik agraria yang disisipkan lewat keluarga Ben. Keluarga Ben adalah salah satu keluarga petani kopi yang melawan pihak yang hendak mengubah daerah penghasil kopi itu menjadi perkebunan sawit. Ibu Ben meninggal karena konflik tersebut. Ini kemudian membuat ayahnya membenci kopi setengah mati. Sayangnya, bagian ini muncul terlalu singkat untuk dapat menyatakan sikapnya mengenai konflik pertanahan. Kita tidak pernah tahu seperti apa akhir dari sengketa lahan tadi, serta apa yang terjadi kepada petani-petani kopi lainnya. Kita juga tidak tahu mengapa daerah tadi di akhir film menjadi daerah penghasil sayur-sayuran, bukannya perkebunan sawit. Akan lebih membantu, misalnya, jika apa yang terjadi kepada ayah Ben setelah istrinya meninggal dan anaknya kabur dari rumah juga diceritakan dalam film.
Selain dari penulis naskah, rasanya patut juga mengapresiasi Roby Taswin selaku sinematografer. Lewat shot-shot­ close up-nya tentang kopi, mulai dari merawat tanaman kopi, memanggang biji, menyajikan, hingga menikmatinya, sentralitas kopi dalam film Filosofi Kopi menjadi muncul lewat gambar-gambarnya. Hal ini bisa kita bandingkan dengan Madre, film serupa yang tidak menunjukkan pentingnya sebuah biang roti dalam semesta ceritanya. Dari segi scoring, denting-denting yang sederhana (atau bahkan senyap) dalam adegan-adegan yang emosional bisa dilihat sebagai usaha untuk menghindarkan efek dramatisasi yang berlebihan. Dan ini juga selayaknya diapresiasi.
Filosofi Kopi bukan film yang penuh filosofi. Cerita-cerita tentang obsesi, persahabatan, penemuan jati diri, serta rekonsiliasi hubungan anak dan orang tua juga tidak menawarkan hal yang baru. Maka, jika diibaratkan kopi, ia bukan kopi tubruk, apalagi kopi tubruk yang dibuat dari biji Kopi Tiwus. Film ini adalah secangkir cappuccino: ringan, tetapi nikmat diminum.

Minggu, 01 November 2015

sebuah LAGU UNTUK TUHAN





Sebuah film yang diangkat dari novel Laris karya Agnes Davonar. Film ini akan mengisahkan percintaan seorang gadis tuna rungu bernama Angel (Eriska Rein) dengan seorang musisi bernama Gilang (Steven William). Film yang menceritakan tentang persahabatan yang terjalin antara seorang penyanyi terkenal dengan seorang gadis tuna rungu yang jujur dan baik hati. Gilang (Stefan William) adalah seorang penyanyi terkenal yang menemui kenyataan bahwa ayahnya terlibat kasus korupsi.

Suatu ketika, saat dia pergi ke sebuah tempat, dia secara tidak sengaja bertemu dengan Angel, seorang gadis tuna rungu. Pertemuannya dengan Angel kemudian berlanjut hingga keduanya menjalin hubungan persahabatan. Meski keduanya berbeda, namun Angel mengajarkan Gilang banyak hal tentang kehidupan. Karena itulah Gilang sangat menyukai Angel.

Namun persahabatan mereka harus dihadapkan oleh takdir, yang mana memaksa mereka untuk berpisah. Sebelum berpisah, Angel menyampaikan permintaan terakhirnya kepada Gilang, yakni membuatkannya sebuah lagu untuk Tuhan yang akan dibawanya ketika dia menghadap sang Pencipta.

Jumat, 16 Oktober 2015

KAU TETAP ADA DIDALAM JIWA

Tak pernah terbayang akan menjadi seperti ini pada akhirnya 
Semua waktu yang pernah kita lewati bersamanya telah hilang dan sirna 
Hitam Putih perluJanji kita menunggu 
Tapi kita tak mampu 
Seribu satu cara kita lewati ntuk dapati semua jawaban ini
Bila memang harus berpisah 
Aku akan tetap setia 
Bila memang ini memang ujungnya 
Kau kan tetap ada di dalam jiwa
 Tak bisa tuk teruskan 
Dunia kita berbeda
 Bila memang ini ujung nya 
Kau kan tetap ada di dalam jiwa
Memang tak mudah tapi ku tetap menjalani kosong nya hati
 Dulula mimipi kita yang pernah terjadi tersimpan tuk jadi history
Hitam putih perluJanji kita menunggu 
Tapi kita tak mampu 
Seribu satu cara kita lewati tuk dapati semua jawaban ini
Bila memang harus berpisah 
Aku akan tetap setia 
Bila memang ini memang ujungnya
 Kau kan tetap ada di dalam jiwa
 Tak bisa ntuk teruskan 
Dunia kita berbeda
 Bila memang ini ujung nya
 Kau kan tetap ada di dalam jiwa
Tak bisa tuk teruskan
 Dunia kita berbeda 
Tak bisa tuk teruskan 
Dunia kita berbeda 
Tak bisa tuk teruskan..(ouw..ho) 
Dunia kita berbeda 
Tak bisa tuk teruskan 
Dunia kita berbeda
Bila memang harus berpisah
 Aku akan tetap setia 
Bila memang ini memang ujungnya
 Kau kan tetap ada di dalam jiwa 
Tak bisa tuk teruskan 
Dunia kita berbeda 
Bila memang ini ujung nya
 Kau kan tetap ada di dalam jiwa

Sabtu, 11 Oktober 2008

kmbali pulang- kangen




bintang terlihat terang
saat dirimu datang
cinta yang dulu hilang
kini kembali pulang

lihatlah dia mulai bernyanyi
coba merangkai mimpi
cinta yang dulu pergi
kini datang kembali

wajahmu mengingatkanku
dengan kekasihku dulu
wajahmu mengingatkanku
dengan masa laluku

reff:
kekasih yang dulu hilang
kini dia tlah kembali pulang
akan ku bawa dia terbang
damai bersama bintang

kekasih yang dulu hilang
kini dia tlah kembali pulang
betapa senang ku dendangkan
dan takkan ku lepaskan

wajahmu mengingatkanku
dengan kekasihku dulu
wajahmu mengingatkanku
dengan masa laluku

repeat reff [2x]


Kangen Band
Kangen Band


Nada Sambung Pribadi
(NSP / i-Ring / RBT)
Kode NSP / i-Ring / RBT
Indosat : 60942299
Fren : 21100899


BILA RASA Q INI RASA MU

Intro:

D Bm Em F#m Bm – A – E/G# F#m – Em – D – A

D Dsus2 – Daug (D+)
Aku memang terlanjur mencintai - mu

Chord

Em - Esus4 B7/D#
Selu-ruh jiwa telah ku serahkan

Em - Esus4 A
Menggenggam janji setiaku

D G/D
Kumohon jangan jadikan semua ini

D G F#m -
Alasan kau menyakitiku

chord

Em A
Tapi cobalah sejenak mengerti...

D Bm Em
Reff: Bila... rasaku ini rasamu

A – G F#m Bm
Sanggupkah engkau menahan sakitnya

www.liriklagumusik.com

D Bm Em
Coba… bayangkan kembali

F#m Bm – A – E/G#
Betapa hancurnya hati ini, kasih

Keris-Patih

Interlude: Em A/C# – D – Em - F#m - G A

D D/C# - Bm E/G# G F#m C – Bm

Em - F#m - G - E/G# - A
Wo wo wo wo wo woh wooo....u u....woo u u....woo....

Kembali ke: Reff

Coda:

D G – Gdim7 D
Aku memang terlanjur mencintaimu